PMII Wonosobo


Home
Kajian
Opini
Kontak
Agenda
Pernyataan Sikap
Berita
Jaringan

Opini

Kajian Tentang Gerakan PC PMII Wonosobo yang tetap mempertahankan aspek lokalitas dan kepedulian kolektif atas kondisi sosioreligius, sosioekonomi dan sosiopolitik masyarakat Indonesia

MELEPAS JERAT EKONOMI BURUH
Refleksi Mayday 2007
Oleh : Abaz Zahrotien

Tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa buruh merupakan pihak yang paling marginal di sisi ekonomi. Banyak buruh yang terkadang gajinya tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari, sehingga dapat mudah di jumpai buruh menjual tenaga ekstranya untuk dapat menutup kebutuhan mereka dan keluarga.
Hari ini dapat di saksikan, kondisi buruh atau apapun nama lainnya belum mencapai taraf hidup sejahtera. Standar kehidupan mereka sehari-hari jauh dari standar kehidupan rata-rata. Efeknya jatuh pada diri mereka sendiri yakni keterbelakangan, mulai dari keterbelakangan pendidikan, social budaya dan sebagainya. Istilah kasarnya, jangankan kebutuhan sekunder apalagi tertier, kebutuhan primer saja nasibnya masih menggantung.
UMK rendah menjadi persoalan utama, standar gaji buruh yang di bawah standar ini bukan hanya merugikan, tetapi sangat merugikan. Ada satu kabar gembira untuk buruh dari Freeport Indonesia di Papua, standar gaji terrendah mereka 3,1 juta perbulan, yang bagi kita angka itu lebih dari cukup. Tetapi tidak untuk mereka sesungguhnya, penyebabnya karena factor geografis papua yang sulit untuk distribusi berbagai kebutuhan dari daerah lainnya.
Perjuangan terhadap kemerdekaan ekonomi buruh sampai hari ini terus dilakukan, diantaranya berbagai perserikatan buruh telah dibentuk dan mengawal kondisi buruh mulai dari persoalan keselamatan kerja hingga standar gaji minimum.
Perubahan Paradigma
Cukup banyak sudah contoh ketertindasan buruh sampai hari ini, mulai dari adanya marginalisasi hingga pada status social. Kelas-kelas yang terbentuk dalam perusahaan sering kali membuat buruh di rugikan.
Teori Materialisme dialektis hingga Das Kapital-nya Karl Marx telah memberikan solusi sesungguhnya. Namun implementasinya dalam kehidupan buruh dan serikatnya belum mampu dilakukan. Dapat kita saksikan di zaman orde baru, Dita Indah Sari dan kawan-kawan seperjuangannya dengan buruhnya sering melakukan perlawanan hingga akhirnya masuk dalam penjara sebagai pahala atas tindakannya yang mengorganisir buruh untuk melawan.
Ancaman berupa pemecatan, penurunan, jabatan, pemotongan gaji untuk karyawan yang melakuan konspirasi melawan terhadap kebijakan perusahaan agaknya yang paling di takutkan oleh buruh. Sehingga tuntutan yang mereka inginkan hanya terpendam dalam hati.
Salah sebenarnya arah dan garis gerakan buruh yang hanya memendam keinginannya, sebelum sampai pada gerakan yang konkrit, yang perlu dilakukan adalah merubah paradigma. Artinya, cara pandang (weltanschauungs) yang cenderung fungsionalis atau strukturalis dari buruh di rubah atau setidaknya mendekati ke paradigma strukturalisme radikal.
Paradigma ini berfungsi sebagai modal awal untuk menggenjot motivasi buruh merubah kondisinya sendiri. Selanjutnya kemudian diikuti perubahan paradigma secara kolektif dari buruh yang ada. Tujuannya untuk dapat menyatukan pandangan (common sense) dan kesatuan gerak.
Jaminan Kehidupan
Perhitungannya sederhana sebenarnya, pada Mayday tahun lalu, buruh melakukan mogok kerja pada tanggal 3 Mei selama satu hari untuk melakukan aksi radikal di DPR RI dan sekitarnya sebagai pelampiasan atas tidak didengarkannya aspirasi yang mereka tuntutkan. Perusahaan tempat mereka bekerja mengalami kerugian yang tidak sedikit.
Hampir sama arahannya, namun tidak seradikal gerakan buruh tahun lalu. Artinya gerakannya berupa labor disobediences, yakni pembangkangan buruh berupa mogok kerja. Selain sebagai pengajuan tuntutan, tentunya ini berimbas pada jalannya proses produksi.
Gerakan semacam ini lebih di perhitungkan dari pada gerkan aksi turun jalan, karena aksi turun jalan akibatnya bagi kelangsungan perusahaan lebih kecil di banding aksi mogok kerja. Bentuk aksi mogok ini sah saja sebenarnya, selama kesejahteraan buruh tidak mendapatkan perhatian dan tidak ada upaya untuk memperbaikinya.
Gambaran bentuk aksi sebenarnya merupakan gerakan teknis, dan dalam upayanya memerlukan dukungan moral, spiritual dan material dari kita. Dan ingin penulis tegaskan bahwa gambaran aksi diatas bukan untuk memancing buruh melakukan gerakan radikalisasi, tetapi semata mata untuk menjamin masa depan ekonomi buruh.

Press and Information Insitute
Branch Manager Indonesian Moslem Student Movements Wonosobo
Wisma NDP PMII, Jl. Jambean Kalibeber, KM.01 Wonosobo
+6281 227 057 954