PMII Wonosobo


Home
Kajian
Opini
Kontak
Agenda
Pernyataan Sikap
Berita
Jaringan

Kajian

Konstelasi Geopolitik dan Kearifan Lokal

Oleh : Abaz Zahra

Kajian ini hanya sekedar refleksi untuk mengetahui sejauh mana Barat dengan segala kemasannya menyusup dalam tradisi-tradisi kita hari ini.

Sebuah Reportoar

A. Pendahuluan
Konstelasi geo politik, diakui atau tidak, erat kaitannya dengan geografi sosio-religius local. Ada semacam pola umum (Weltanschauungs) yang melingkupi wilayah sosio religius secara global dan pengaruhnya mengakar hingga tatanan social terrendah sekalipun. Tatanan global ini yang kemudian menjadi satu kesepahaman bersama sebagai satu ideology internasional yang menjadi tolok ukur.
Artinya, dalam tatanan ini menciptakan suatu arah bersama secara perlahan menuju satu titik dengan jalan yang berbeda-beda. Berbagai bidang kehidupan mengikuti alur ini sebagai tolok ukur dan standar kompetensi. Ini menarik untuk di perhatikan, bahwa dari berbagai ideology yang berlaku dalam wilayah internasional kemudian mengakar dan mematahkan ideology lainnya yang berkembang sebagai antitesisnya.
Dunia dalam masa postmodernisme ini, menurut Asghar Ali Enginer, berbagai system kepercayaan diuji secara kritis dalam wilayah yang sangat luas. Tak ada system pemikiran atau kepercayaan yang saat ini tidak terbuka untuk diuji.
Dari sini memberikan gambaran bahwa adanya persaingan masing-masing ideology untuk bersaing dalam ‘ujian’ untuk membuktikan bahwa ideology tertentu mampu menembus batas dan pantas untuk mendominasi tata sosio antropologis masyarakat global. Persaingan ini menimbulkan semacam diskriminasi bahkan eliminasi terhadap ideology lainnya yang menjadi lawan dari ideology tersebut.
Gambaran globalnya kurang lebih demikian. Terjemahannya, dalam konstelasi geopolitik ini, yang pada perang dingin berlaku system bipolar, dua ideology besar yang menghegemoni masyarakat internasional, yakni Kapitalisme yang direpresentasikan oleh negara Amerika Serikat dan sekutunya serta Komunisme yang menjadi tatanan sosio-politik hasil dari revolusi Bolsheviks di Rusia dibawah pimpinan Vladimir Illich Lenin.
Namun realitas ini kemudian terbalik pasca perang dingin, dengan ditandai terpecahnya Uni Soviet, banyak system yang berlaku secara global, atau istilah tepatnya multipolar. Masing-masing ideology ini kemudian mencoba membangun pengaruh di dunia internasional serta bersaing dengan ideology lain yang menjadi lawannya.
Kurang lebih demikian deskripsi global kontelasi politik global hari ini. Tentang sejauh mana konstelasi geopolitik mampu mempengaruhi tatanan sosio religius di Indonesia, secara lebih detail akan mendapatkan tempat tersendiri nantinya.

B. Definisi dan Gambaran Global.
Menelusuri akar epistemology kontelasi geo politik untuk mendapatkan satu tafsiran yang jelas sehingga memberikan pemahaman yang lebih mendetail, serta, dan tentunya, mampu menjadi satu pandangan global. Perlu kiranya kajian epistemology di-kaji secara lebih kritis. Termasuk di dalamnya tentang akar aksiologinya.
Dalam kajian bahasa, kata geo berarti bumi, tanah dan seterusnya, sedangkan politik adalah satu strategi, cara, metode dan hal lainnya yang terkait dengan itu. Geopolitik adalah tatanan politik internasional, demikian secara sederhana kira-kira. Sedangkan sosio berasal dari kata social, yang berarti tatanan masyarakat dan hal yang melingkupinya. Religius, berasal dari kata religio, bahasa Yunani, yang kemudian di pingit dalam tata bahasa Inggris menjadi Religious yang berarti segala sesuatu yang berkaitan dengan keagamaan.
Sedangkan secara terminology, geopolitik berarti suatu tatanan politik yang bersifat mendunia dan menjadi system yang berlaku secara internasional. Berlakunya system ini, baik secara resmi ataupun datang dengan sendirinya dalam kehidupan social atau bidang lainnya.
Sosio religious ditinjau dari sisi terminology berarti tatanan masyarakat yang agamis, atau pendek kata dapat berarti tata masyarakat yang beragama. Atau tatanan masyarakat yang terbentuk dengan pandangan yang sama tentang agama.
Selanjutnya istilah ideology, istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Destut De Tracy (1796) ketika Prancis sedang mengalami proses transformasinya dibawa system politik republiken. De Tracy memberikan pengertian bahwa ideology adalah suatu system pengetahuan tentang ide, yang menjelaskan konsep-konsep praktis di dalam ilmu pengetahuan tentang segala yang ada. Dalam pengertian ini, ideology bersifat positif dan lagi oleh konseptor awalnya, ideology hendak dijadikan dasar moralitas bagi ilmu politik yang berkutat dalam pembentukan kebijakan-kebijakan publik.

C. Realitas Konstelasi Geopolitik Hari Ini.
Sebelum membicarkan posisi dan peran stategis Inonesia dalam kontalasi politik internasional, terlebih dahulu perlu dibicarkaan bentuk dari system internasional itu sendiri serta gerakannya dan sejarah pemikirannya.
Di mulai dari Perang Dunia II yang membagi kekuatan dunia menjadi dua blok, antara blok Barat dengan Amerika Serikat dan Inggris sebagai representasinya, dan blok Timur yang di jendrali oleh Uni Soviet.
Perang Dunia II selain perang terbuka antara dua kekuatan terbesar di dunia ini, ada juga perang dingin sebagai titik akhir dari bentuk perang terbuka. Kedua kekuatan ini tidak pernah terlihat perang dalam satu medan. Tetapi di balik perang-perang kecil dalam beberapa negara di dunia, peran dari kedua kekuatan ini tidak bisa dihindari. Kasus terpecahnya korea, antara Korea Utara yang beraliran ala Uni Soviet dan Korea Selatan yang ideologinya sama dengan apa yang dianut oleh orang Barat. Perang Vietnam juga sama halnya, dan perang-perang besar lainnya seperti kasus di buatnya Tembok Berlin di Jerman untuk membagi Jerman Timur dan Jerman Barat.
Dua kekuatan ini selain bersaing dalam perang, juga ada kompetisi ideology yang mendasari terjadinya perang. Amerika Serikat dengan ideology kapitalisme-nya mencoba menjadi satu kekuatan terbesar yang menghegemoni dunia. Demikian juga Uni Soviet dengan ajaran komunisme-nya. Kalau kapitalisme sudah membudaya saat itu dan menjadi tatanan dunia baru di Barat, maka komunisme yang di gagas Karl Marx dan Friedrich Engels dalam Das Kapital datang sebagai pembanding yang hendak meruntuhkan tradisi kapitalisme yang cenderung eksploitatif dan imperialis.
Dari sini menarik apa yang dikaji oleh Anthony Giddens dalam bukunya The Third Ways, dari adanya dua kekuatan besar yang mencoba mendapatkan posisi dalam kancah perpolitikan dunia. Anthony Giddens dalam pemikirannya perlu ada satu jalan lain yang harus ditempuh oleh negara-negara yang tidak terlibat dalam dua kekuatan ini. Jalan Ketiga yang di gagas oleh Giddens sebagai langkah yang solutif bagi negara-negara lain yang tidak ingin melibatkan dirinya, termasuk Indonesia dengan politik luar negeri bebas aktifnya.
Sebenarnya langkah yang diambil oleh Anthony Giddens ini telah dirumuskan oleh Soekarno dan sahabatnya dalam bentuk pendeklarasian Gerakan Non Blok (GNB) yang mencoba melepaskan dunia ketiga dari pengaruh dua ideology besar ini.
Setelah perang terbuka antara dua kekuatan besar ini, muncullah konsep perang baru yang disebut sebagai perang dingin. Yakni perang dengan tidak menggunakan senjata. Perang dingin lebih didominasi dari persaingan intelektual dan perlombaan pembuatan senjata. Perang dingin ini membuat negara-negara yang tidak tergabung dengan dua kekuatan ini menjadi takut, apalagi dengan persaingan senjata nuklir yang dalam skala besar.
Dalam hal ini, Francis Fukuyama sebagai pengamat konstelasi geo politik dalam bukunya The End of History ‘memberikan ramalan’ bahwa setelah runtuhnya perang dingin ditandai dengan satu diantara dua kekuatan yang mendominasi maka akan muncul satu kekuatan besar yang menghegemoni dunia (unipolar). Amerika Serikat, sebagai pihak yang diunggulkan dalam tesis Fukuyama ini akan menjadi kekuatan terbesar yang pada nantinya akan menguasai dunia. Yang perlu digaris bawahi dalam ‘ramalan’ Francis Fukuyama ini adalah, menurutnya Amerika Serikat sebagai pihak yang menang akan menjadi satu-satunya kekuatan yang menjadi penguasa dunia.
Namun ternyata apa yang diramalkan oleh Francis Fukuyama ini bertolak belakang dari realitas yang terjadi sebenarnya. Setelah Amerika Serikat memenangkan perang dingin ditandai dengan runtuhnya negara Uni Soviet. Ternyata Amerika Serikat tidak menjadi satu-satunya kekuatan yang mampu menghegemoni dunia.
Samuel P. Huntington dalam tesis terbesarnya The Clash Of Civilization, and the Remaking New Order, mendeskripsikan secara rinci, termasuk kemungkinan-kemungkinan lain yang bisa saja terjadi dalam konstelasi politik global yang sedang berlangsung ini.
Di awali dari runtuhnya Uni Soviet, maka secara resmi Amerika Serikat memenangkan Perang yang selama berpuluh-puluh tahun berlangsung. Setelah perang fisik semacam ini, kata Huntington, dalam jangka waktu kedepan tidak terlalu mendominasi perang seperti perang dingin, perang yang akan terjadi adalah perang antar peradaban, bukan lagi perang antar negara dan seterusnya.
Setelah perang dingin berakhir politik internasional telah mengalami beberapa perubahan besar yang cukup mendasar. Perubahan yang paling mencolok adalah berubahnya system internasional bipolar menjadi suat system yang multipolar.
Semula perang dingin kreangka piliktik internasional dibentuk oleh dua negara adi daya, Amerika Serikat dan Uni Soviet, yang saling bertentangan. Konflik antara dua negara adidaya ini berskala global karena baik AS maupun US berusaha menarik negara-negara lain sebagai sekutu atau simpatisannya, atau setidaknya mencegah agar suata negara tidak masuk dalam lingkungan pengaruh pihak lawan. Konflik regional antara negara tetangga dan konflik nasional antara berbgai kelompok kepentingan, tidak jarnag ikut terseret dalam pertarungan antara kedua adi daya tersebut.
Dengan runtuhnya Uni Soviet, system politik bipolar yang telah hadir sejak berakhirnya perang dunia II juga telah menjadi sejarah. Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara adi daya sehingga sempat menimbulkan kekhawatiran bahwa politik internasional akan menjadi unipolar dibawah suata Pax-Americana. Pada kenyataannya baik keinginan maupun kemampuan AS untuk menjadi pemimpin tunggal dunia juga semakin memudar. Robohnya Uni Soviet merupakan kemenangan bagi system politik AS. Namun kenyataannya, AS juga harus membayar sangat mahal untuk dapat tampil unggul dalam perang dingin.
Selama bertahun-tahun AS di bawah Partai Republik sangat kurang memperhatikan masalah-masalah ekonomi dan social dalam negeri, sehingga masyarakat AS mengalami kemunduran yang cukup tajam dalam bidangini. Berakhirnya perang dingindilihat oleh masyarakat dan pemerintah AS yang baru sebagai kesempatan untuk mengatasi masalah-masalah di dalam negeri, sedangkan maslah internasional kurang mendapat perhatian yang serius.
Inilah kecerobohan dan kekurangcermatan AS, dimana ketika setelah memenangkan perang dingin, AS yang berobsesi menjadi penguasa dunia malah berpaling dan berkonsentrasi mengurusi urusan dalam negeri di tengah kejayaannya. Akibatnya, AS secara tidak langsung memberikan kesempatan kepada negara lain untuk membangun kekuatan dan peradaban yang tidak sepaham dengan AS, sehingga obsesi AS untuk menjadi satu-satunya penguasa dunia mengalami gangguan.
Huntington menganalisis factor eksternal dari tubuh AS dengan munculnya kekuatan yang multipolar di tengah konstelasi geopolitik hari ini. Setelah runtuhnya Uni Soviet, negara-negara bekas Uni Sovet yang pada awalnya berhaluan Islam kembali ke rumah lama. Negara-negara seperti Aljazair, Turkmenistan, Uzbekistan, Afghanistan dan sebagainya kembali pada Islam.
Dari berpuluh-puluh kekuatan dunia yang ada, Huntington kemudian membaginya secara garis besar, kekuatan pertama, Kapitalisme Amerika, kedua kekuatan China dan yang terakhir dan paling actual adalah kekuatan Islam.
China yang kaya akan kebudayaan klasik, mampu menyihir dunia menjadi tercengang, bahkan hampir di setiap negara, budaya China tumbuh subur, dimana-mana Klenteng dapat berdiri, ramalan-ramalah Feng Shui laku laris di setiap pelosok dunia, produk-produk alternatif China bahkan menembus pasar internasional dan mendominasinya. Di dukung dengan letak geografis yang berpotensi untuk menjadi central pasar internasional, semakin memposisikan China, juga dengan kekuatan ekonomi, social budaya dan lainnya yang tidak lekang oleh zaman. Ini semua membuat Huntington menghitung China sebagai kekuatan yang akan mendominasi dunia, meskipun dengan strategi yang halus.
Sementara itu, Islam, yang sampai hari ini menjadi kekuatan kiri yang paling berbahaya bagi Amerika Serikat, disamping kiri lainnya, dengan jumlah penganutnya yang makin lama makin meningkat, membuat Islam semakin di perhitungkan juga. Apalagi dengan bangkitnya kekuatan negara-negara Islam. Iran yang dipimpin oleh pemimpin ‘keras kepala’ terhadap AS, Mahmoud Ahmadinejad, membangkitkan program nuklir, serta ilmu pengetahuan modern lainnya.
Bukan itu saja yang membuat Islam diperhitungkan oleh Huntington, Islam, khususnya yang ada di Timur Tengah, merupakan negara-negara penghasil minyak bumi yang besar dan potensial memenuhi kebutuhan minyak dunia. Selain minyak bumi, barang tambang lainnya Islam juga mendominasi.
Islam Indonesia tidak ketinggalan, dengan berbagai corak yang khas, menjadikan Islam Indonesia di tempatkan di garda depan, apalagi di dukung dengan status Indonesia sebagai negara dengan jumlah penganut Islam terbesar di dunia.

D. Geneologi Sosial Politik (Geosospol)
Setiap upaya untuk mengatasi persoalan yang terjadi di Indonesia tanpa melihat keterkaitan dengan konstelasi global, niscaya akan menemukan kegagalan yang mutlak. Karena, Indonesia sebagai negara yang berdaulat, tidak bisa lepas dari konstelasi global internasional. Bahkan ada yang mengatakan sejarah bangsa Indonesia tidak lain adalah permainan dari pertarungan kepentingan social, politik, ekonomi dan wacana yang bermain di dunia internasional.
Sedikti menengok pada masa pra kemerdekaan (1596) bangsa asingmenginjakkan kaki ke Nusantara dan menanamkan pengaruhnya. Jatuhnya kedaulatan nusantra ketangan asing ditandai sejak berdirinya VOC pada tahun 1602. kehidupan bangsa Indonesia dikendalikan oleh penjajahan bangsa asing.
Pada abad ke-19 terjadi perubahan fundamental di Eropa, yaitu sejak pemikiran Ernest Renant. Tentang negara bangsa (nation state) mempengaruhi kawasan Eropa dan berdirilah berbagai Negara bangsa di Eropa. Terjadinya perubahan ini sangat berpengaruh pada negara-negara jajahan termasuk Hindia Belanda. Selain itu, pengaruh terhadap Hindia Belanda terlihat sejak keluarnya kebijakan poltik etis oleh anggota parlemen Belanda yang bernama C. Th. Van Deventer.
Dampak yang diperoleh penduduk pribumi sejak munculnya konsep negara bangsa dan kebijakan politik etis adalah kaum pribumi dapat memperoleh pendidikan modern ala Barat. Yang mulanya hanya dinikmati oleh kalangan tertentu saja (golongan priyayi) kaum priyayi rendahanpun dapat menikmati pendidikan tersebut, sehingga ada perubahan signifikan struktur social masyarakat Hindia Belanda.
Pengaruh pemikiranala Barat pada masyarakat pribumi yang mengenyam pendidikan ala Barat ini akhirnya munculnya semangat nasionalisme dan berdirinya organisasi-organisasi kepemudaan dan kemasyarkatan (meskipun masih bersifat island people), seperti Boedi Oetomo (1908), Jong Sumatea, Jong Islament Bond, Jong Cilebes, SI, Muhammadiyah dan organisasi lainnya.
Ditengah suasana konstelasi politik global yang tidak menentu. Akhirnya bangsa Indonesia mengkonstruksikan faham kebangsaan yang utuh dan lahirlah Sumpah Pemuda (1928) yang kemudian memunculkan wacana Negara Bangsa Indonesia. Sementara itu, antara berbagai negara imperialis semakn menajam dan mencapai puncaknya pada Perang Dunia II (1939). Indonesia menjadi rebutan negara-negara yang sedang bertikaian untuk menjadikan pangkalan dan mempertahankan kepentingan geopolitik dan geo strategi masing-masing pihak. Ditengah suasana perang asifik yang memanas dijadikan moment, oleh para aktivis gerakan, untuk memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.
Dari sedikit penelusuran akar histories bangsa, terkait dengan posisi Indonesia dalam konstelasi geopolitik sebelum kemerdekaan Indonesia. Ada satu hal yang perlu di garis bawahi bahwa keberadaan Indonesia dalam konstelasi geopolitik tidak bisa terlepas begitu saja dari geo strategi oleh pihak-pihak global yang mendominasi, artinya ada pengaruh-pengaruh dari dunia internasional dalam wilayah sosio antropologis politis di Indonesia. Setidaknya ada empat pengaruh global yang mewarnai dinamika sosio antropologis politis di Indonesia, yakni, Indianisasi, Chinaisasi, Eropanisasi dan Islamisasi.
Adanya pengaruh India di Indonesia tidak bisa dilepas begitu saja, warna bernuansa India telah mengakar kuat di Indonesia, hal ini tidak terlepas dari pernah berjayanya agama Hindu dalam sejarah keagamaan nasioal. Agama Hindu yang menjadi agama mayoritas di India, telah berkembang pesat di Indonesia. Dan yang paling dapat dilihat secara eksplisit adalah adanya kebudayaan India yang justru berkembang pesat di Indonesia, khususnya Jawa, yakni seni patung, seni Candi, seni pewayangan, seni memahat dan alat-alat musik yang bernuansa India lainnya. Ini menjadi hal yang menarik untuk dikaji.
Selain itu, ada satu hal yang kurang popular dalam sejarah nasional, tetapi toh tetap membuat pengaruh India di Indonesia terlihat lebih jelas juga. Pemberontakan kaum Sepoy di Jawa Tengahtahun 1815. pada tahun 1945 ketika orang Inggris mendarat di Surabaya yang membawa kontingen-kontingen India-Bengali, setelah merebut Yogyakarta, ternyata Kapten Subandar atau Dhukul Singh terkejut melihat bahwa Jawa adalah tanah Brahmana dan Sunan adalah keturunan Rama.
Namun dari semua itu, yang paling membuat pengaruh India di Indonesia terenal hingga dataran global adalah peneliti-peneliti Eropa sebelum abad ke-19 yang melakukan penelitian di Indonesia seperti Raffles yang mengangkat Indianisasi di Indonesia sebagai topik yang paling ia gemari. Hal ini dia tunjukkandengan mengaitkan Jawa dengan kemaharajaan India Inggris. Misalnya, dalam buku The History of Java, disini ia tampilkan gambar-gambar patung yang bernuansa Hindu India dengan berbagai coraknya.
China datang ke Indonesia kurang lebih pada abad ke-13/14. Namun yang penting dri terjadinya perpaduan antar kedua kerajaan itu adalah masa dinasti Ming (China) dengan Kerajaan Sriwijaya di Sumatera dan Majapahit di Jawa.
Masuknya masyrakat China ke Indonesia, berdasarkan bukti sejarah, ditandai dengan ditemukannya makam putri Campa (tertulis 1370). Putri Campa dalam sejarah nasional adalah saudara raja Pandita dan Raden Rahmat. Keduanya aalah anak dari keturunan Arab, yang telah mempersuntung gadis setempat. Putri Campa adalah muslim termasyhur yang datang untuk menikah dengan seorang pangeran Majapahit. Adapun ia dimakamkan di Trowulan pada tahun 1448.
Versi lain sejarah, mengatakan bahwa masyarakat Indonesia adalah berasal dari dataran China yang mengungsi secara berangsur-angsur ke wilayah selatan yang lebih subur untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Pendapat ini diperkuat dengan masyarkat Indonesia pada umumnya termasuk ras Mongoloid dengan cirri-ciri bertubuh pendek, warna kulit sawo matang, mata sipit dan memiliki rambut berwarna hitam pekat.
Terlepas dari semua itu, yang menjadi persoalan adalah, adanya pengaruh kebudayaan China di Nusantara. Banyak sudah hal-hal yang berbau China di Indonesia, mulai dari menjamurnya Barongsai, pakaian muslim (Baju Koko) yang mengambil corak pakaian adat China (di populerkan oleh Laksamana Cheng Ho), hingga pada diresmikannya agama Konghucu oleh Presiden Abdurrahman Wahid sebagai agama yang sah di Indonesia.
Demikian halnya dengan budaya Indonesia yang terpengaruh warna China seperti tata budaya masyarkat, Indonesia merupakan lahan yang subur untuk perkembangan budaya China sampai hari ini, ditandai dengan maraknya peringatan-peringatan seperti tahun baru Imlek, kiriman Angpao, klenteng-klenteng, lampion, hingga pada makanan khas China yang berkembang dan berproduksi sampai-sampai orang Indonesia mengatakan bahwa itu merupakan produk local.
Orang Eropa yang pertama kali menginjakkan kaki ke nusantara adalah Marcopolo. Pelaut tangguh ini memberi nama untuk pulau Jawa sebagai Java Mayor dan Sumatera sebagai Java Minor.
Pengaruh Eropa dalam tata masyarakat Indonesia terlihat sangat jelas, apalagi ketika menilik pada negara kita yang berabad-abad mengenyam imperialisme dan kolonialisme dari negara-negara Barat. Negara Barat yang pengaruhnya paling mencokol adalah negara Belanda, hal ini disebabkan negara Belanda selama kurang lebih 3,5 abad menjajah negeri kita ini.
Dimulai dari arsitektur bangunan model Barat yang kemudian banyak ditiru untuk model bangunan modern saat ini. Dengan tiang yang besar, dinding yang tebal, pintu tinggi lebar, serta banyak gambar-gambar bernuansa seni pada kaca-kaca jendela dan seterusnya.
Warisan kolonial lainnya adalah undang-undang dan system bermasyarakat yang berlaku di negara kita. Undang-undang banyak sekali yang sampai hari ini merupakan turunan dari warisan zaman londho. Sementara system feodalisme, kapitalisme dan exploitation de I’home par I’home masih mengakar di tengah masyarkat kita sampai hari ini.
Pengaruh-pengaruh Eropa, selain berupa peninggalan fisik diatas, ada satu hal yang penting, yakni ideology dan dasar pemikiran. Dimana banyak sekali intelektualis Indonesia yang berkiblat pada kebudayaan Barat. Katakanlah Mohammad Hatta, Sutan Syahrir dan kawan-kawannya yang menempuh pendidikan di Belanda. Atau Presiden Soekarno, Tan Malaka, H. Agoes Salim, HOS Tjokroaminoto, Sukarni dan tokoh nasional lainnya yang melakukan peletakan dasar negara Indonesia, dan tentunya suasana Belanda masih sangat kental terasa. Mereka itulah yang menggunakan kendaraan pendidikan ala Eropa.
Islam masuk ke Indonesia memberikan corak masyarkat yang paling menonjol, dimana disini Islam mencoba mengubah tata social yang sebelumnya telah mapan dan kemudiand di kemas ulang dalam tatanan yang lebih menarik. Di Indonesia ada dua versi masuknya Islam, pertama dimulai dari perjalanan It Sing dari China yang dalam catatannya menulis bertemu dengan seorang yang sedang melakukan gerakan-gerkan aneh serta bacaan-bacaan aneh pula, orang ini berperawakan Arab, serta menggunakan pakaian mirip orang-orang Arab. It Sing memulai perjalanannya ini sekitar abad ke tujuh masehi.
Namun catatan sejarah lebih menyepakati versi yang kedua yakni dengan bukti ditemukannya makam Fatiman binti Maimun yang bertuliskan sekitar abad kesebelas masehi. Disini kemudian mengakar pada berdirinya kerajaan Samudera Pasai di Aceh dan Kerajaan Demak Bintoro, dan kerajaan Banten di Jawa yang bercorak kepemimpinan Islam. Disusul kemudian munculnya Mataram Islam, Gowa, Talo dan seterusnya.
Pengaruhnya berupa banyaknya peninggalan-peninggalan sejarah yang bercorak Islam seperti Masjid Agung Demak, Menara Masjid Kudus, makam-makam Sunan yang tergabung dalam Walisongo, pesantren-pesantren klasik, kebudayaan dan kesenian masyarakat, lagu-lagu (tembang) yang bernuansa religi, dan sebagainya. Ini dapat dimaklumi bersama mengingat perkembangan Islam di Indonesia termasuk dalam kategor cepat dan besar di dunia.

PLATO PERGI KESEKOLAH
Oleh Abaz Zahra

Konsep Plato (abad ke-5 SM) tentang pendidikan, kaitannya mengenai filsafat pengetahuannya yang menjabarkan sedikit banyak tentang awal dari pengetahuan, agaknya masih menarik juga untuk di kaji. Meskipun beberapa kritikus Plato banyak yang menyerang filsafatnya ini dengan satu asumsi bahwa Plato terlalu mengunggulkan alam immaterial sehingga rasionalitas terhadap filsafatnya hampir tidak mendominasi.
Kritik yang masuk terhadap Plato, khususnya tentang teorinya mengenai pengeetahuan ini, kebanyakan datang dari filosof beraliran rasional. Ambil contoh saja misalnya, Rene Descartes (1596-1650) dan Immanuel Kant (1724-1804). Meskipun rentang waktu antara Plato dan para pengkritiknya jauh tenggangnya. Namun ternyata disini terbukti bahwa konsep yang di kembangkan Plato mampu bertahan lama.
Pengetahuan, menurut Plato, adalah konsep mengingat kembali terhadap informasi-informasi yang sebelumnya telah diperoleh. Artinya, setiap pengetahuan yang kita ketahui atau yang sedang kita pelajari, sebenarnya telah kita ketahui sebelumnya.
Mengkaji Plato tidak terlepas dari konsepnya tentang pemisahan antara Jiwa dan badan dan hal-hal substansial lainnya terkait dengan itu, termasuk juga turunan dari keduanya. Plato dalam hal ini sangat jeli memandang, bahwa, menurutnya, Jiwa (atau dalam bahasanya Hegel disebut Ruh) adalah sesuatu yang terpisah dari badan, sesuatu yang mandiri, bebas dari alam materi dan tidak terikat dengan hukum materi apapun.
Keberadaan jiwa sebagai sesuatu yang independen tentunya berpengaruh terhadap proses pendewasaan jiwa itu sendiri. Di dalam alam immaterial, tempat tertinggi dimana jiwa ditempatkan, jiwa berhubungan dan berinteraksi dengan alam ide (suatu realitas yang bebas dari alam materi). Dalam alam immaterial ini selain berinteraksi dengan alam ide, jiwa juga mengetahui keberadaaan ide, secara sederhana dapat dikatakan bahwa jiwa, dalam pandangan Plato, ketika berada di alam Immaterial telah mengetahui segala informasi dan pengetahuan.
Jiwa yang telah matang berkembang di alam immaterial dengan segala informasi yang diperolehnya kemudian ‘turun’ ke alam materi untuk melakukan integralisasi dengan badan. Disini ada penyatuan antara hal yang bersifat immaterial dan hal yang bersifat immaterial.
Pengaruh yang paling besar terhadap kedewasaan jiwa ini ketika bersatu dengan badan adalah segala informasi yang telah diperoleh jiwa di alam immateri sebelumnya hilang secara serta merta. Pengetahuan yang bersifat immaterial yang didapat sebelumnya, entah karena terjadi sebab apa kemudian terlupa oleh jiwa.
Bersatunya jiwa dan badan, meskipun persatuan ini oleh Plato dianggap sebagai sesuatu yang tetap terpisah, seiring perkembangannya akan mulai memulihkan pengetahuannya, secara perlahan-lahan sesuai tahapannya akan mengingat kembali realitas-realitas immaterial dan material yang telah diketahui sebelumnya dari alam ide. Proses pemulihan pengetahuan ini dilakukan melalui penginderaan gagasan-gagasan (ide) tertentu dan hal-hal particular.
Sebab, kata Plato, semua konsep dan hal-hal particular itu adlah bayangan dan pantulan dari alam ide dan realitas-realitas azali. Di dunia yang didalamnya jiwa itu pernah hidup. Jika ia telah menginderai suatu ide tertentu, pindahlah ia seketika ke realitas ideal yang telah diketahuinya sebelum ia dikaitkan dengan badan.
Dalam analisis tentang Plato dan pengingatan kembali ini, Muhammad Baqir Ash Shadr, memberikan deskripsi menarik bahwa, pengetahuan kita mengenai manusia universal – yaitu ide tentang manusia secara universal- tak lain adalah pengingatan kembali realitas abstrak yang telah kita lupakan. Kita hanya dapat mengingatnya kembali dengan menginderai manusia tertentu atau individu tertentu yang mencerminkan realitas abstrak itu di alam materi.
Intinya, konsepsi-konsepsi umum yang ada sekarang ini merupakan sesuatu yang diingat kembali dari alam ide melalui penginderaan. Konsepsi umum muncul jauh sebelum penginderaan. Penginderaan berfungsi sebagai pelacak dan pencari titik dan simpul konsepsi umum. Pengetahuan rasional tidak berkaitan dengan hal-hal particular dalam alam indera. Tetapi ia hanya berkaitan dengan realitas-realitas universal abstrak tersebut.

Realitas Pendidikan ala Plato Hari Ini
Plato, secara implisit mendeskripsikan tentang bahwa pendidikan yang ada sekarang ini merupakan proses pengingatan kembali konsepsi-konsepsi umum yang muncul di alam ide. Sekolah dan lembaga pendidikan yang ada merupakan lembaga yang merangsang penginderaan untuk mencapai realitas pengetahuan rasional.
Pendidikan kita hari ini, mulai dari pendidikan dasar, menengah hingga perguruan tinggi, lebih mengutamakan kompetensi antar peserta didik, dan tentunya ini berkembang tidak hanya kompetensi antar peserta didik tetapi kompetensi antar lembaga pendidikan. Pemacuan kerangka berpikir antar peserta didik ini diharapkan mampu menjawab kegagalan atau ketidaksempurnaan (unperfected) dari kurikulum yang telah ada sebelumnya. Pengutamaan kompetensi antar peserta didik ini mengingatkan kita pada hukum rimba, siapa yang kuat maka ia yang berkuasa. Dalam wilayah pendidikan, konsep hukum rimba berupa siapa yang cerdas maka ia yang menguasai, berkembang pesat. Aspek penilaian dari sisi ini berpengaruh pada perkembangan intelektual peserta didik yang terus di pacu dengan model pendidikan yang terus mencoba dikembangkan.
Bagus memang, bahwa sekolah, dalam konsepsi Plato, adalah proses pengingatan kembali, dimana realitas yang telah diketahui di alam ide mencoba digali lagi melalui pemacuan intelektual peserta didik. Namun menyisakan banyak persoalan yang harus dibenahi. Maksudnya, system pendidikan yang ada harus segera dibenahi untuk mendapatkan suatu system yang tepat tidak hanya mengunggulkan dan mengagungkan kompetensi peserta didik. Masih ada aspek lain yang harus disentuh dalam hal pendidikan.
UU No. 20 tahun 2003 tentang sisdiknas belum menjamin sepenuhnya keberhasilan pendidikan. Karena pendidikan sesungguhnya tidak hanya seperti yang Plato katakan, yakni proses mengingat kembali, tetapi ada aspek substansial lain yang perlu untuk dikaji.
Hari ini ketika kita melihat realitas pendidikan di lapangan, banyak sekolah yang mencoba menjadi sekolah standar internasional, sekolah standar nasional dan seterusnya. Semua lembaga pendidikan baik negeri ataupun swasta berlomba mengejar predikat diatas. Dan pemerintah, khususnya yang menangani bidang pendidikan, selalu berdiri paling depan untuk menyukseskannya. Back up dari dinas pendidikan terkait hal ini terlihat jelas.
Seandainya kita list dari satu daerah, adanya sekolah yang telah sesuai standar internasional dan atau nasional hampir satu banding seratus. Artinya pemerintah yang memback up lebih terhadap sekolah standar, yang katanya menjamin intelektual peserta didiknya, memarginalkan sekolah-sekolah yang sesungguhnya telah marginal.
Kembali ke persoalan Plato yang akan bersekolah, proses pengingatan kembali melalui penginderaan membawa kita pada metode belajar peserta didik. Artinya karena pendidikan merupakan proses pengingatan kembali maka metode belajarpun seharusnya hampir sama dengan strategi mengobati orang amnesia yang mencoba mengingat kembali apa-apa yang diingat sebelumnya yang entah karena sesuatu hal akhirnya terlupa.
Model pembelajaran berupa tenaga pendidik yang terus menerus berpidato (orasi) agaknya kurang begitu tepat, persoalannya peserta didik tidak dituntut untuk aktif mengeluarkan pendapatnya.
Proses mengingat kembali harus melibatkan secara aktif peserta didik dalam proses pembelajaran. Ini penting mengingat pengingatan kembali membutuhkan rangsangan inderawi, dimana indera manusia yang ada harus dituntut untuk beraktivitas, tidak hanya indera pendengar saja yang aktif, tetapi indera lainnya juga harus berfungsi aktif agar model pengingatan kembali dapat terlaksana.

Press and Information Insitute
Branch Manager Indonesian Moslem Student Movements Wonosobo
Wisma NDP PMII, Jl. Jambean Kalibeber, KM.01 Wonosobo
+6281 227 057 954